Cara Membuat Pakan Fermentasi untuk Ternak Sapi

Pakan fermentasi dapat menjadi pilihan untuk membantu peternak menyediakan hijauan ketika rumput sulit diperoleh, terutama pada musim kemarau. Bahan yang biasanya melimpah, seperti jerami padi, tebon jagung, rumput gajah, daun jagung, dan limbah pertanian, dapat diolah agar lebih awet serta mudah disimpan.

Proses ini memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan sebagian bahan organik dalam kondisi minim udara. Hasilnya berupa pakan dengan aroma asam segar, tekstur masih cukup baik, dan daya simpan yang lebih panjang daripada bahan segar. Fermentasi juga membantu mengurangi bau khas jerami dan membuat bahan lebih disukai sapi.

Pakan hasil fermentasi bukan pengganti seluruh kebutuhan nutrisi secara otomatis. Sapi tetap memerlukan sumber energi, protein, mineral, air minum, serta pakan tambahan sesuai umur, bobot badan, dan tujuan pemeliharaan. Karena itu, pakan awetan sebaiknya diberikan sebagai bagian dari ransum yang seimbang.

Keberhasilan pengolahan sangat ditentukan oleh kadar air, kebersihan bahan, kepadatan saat pengemasan, dan lamanya pemeraman. Kesalahan kecil, seperti bahan terlalu basah atau wadah masih menyimpan banyak udara, dapat menyebabkan pakan berjamur dan berbau busuk.

Memahami prinsip fermentasi pakan sapi

Fermentasi pakan ternak berlangsung ketika mikroorganisme yang menguntungkan mengubah gula dalam bahan menjadi asam organik. Asam tersebut menurunkan tingkat keasaman pakan sehingga pertumbuhan bakteri pembusuk dan jamur dapat ditekan. Proses ini dikenal pula sebagai pembuatan silase apabila menggunakan hijauan yang disimpan dalam kondisi kedap udara.

Bahan dengan kandungan gula cukup, seperti tebon jagung, rumput muda, dan daun jagung, biasanya lebih mudah difermentasi. Jerami padi juga dapat digunakan, tetapi kandungan seratnya tinggi dan nilai nutrisinya lebih rendah. Penambahan dedak, molases, atau bahan sumber energi membantu mikroorganisme bekerja lebih baik.

Kadar air ideal umumnya berada sekitar 60–70 persen. Bahan yang terlalu kering sulit mengalami fermentasi karena mikroorganisme tidak aktif, sedangkan bahan yang terlalu basah mudah mengalami pembusukan. Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan dengan menggenggam bahan yang sudah dicampur. Jika bahan terasa lembap dan hanya mengeluarkan sedikit air saat diperas, kadar airnya biasanya cukup sesuai.

Memilih dan menyiapkan bahan

Bahan utama dapat berupa rumput gajah, rumput lapangan, tebon jagung, jerami padi, daun jagung, atau campuran beberapa hijauan. Pilih bahan yang masih segar, tidak tercemar pestisida, tidak terkena kotoran, dan tidak menunjukkan tanda pembusukan. Hindari bahan yang telah berjamur karena racun jamur tidak selalu hilang selama fermentasi.

Potong hijauan dengan ukuran sekitar 3–5 sentimeter menggunakan pencacah atau sabit yang bersih. Potongan yang lebih pendek membuat bahan mudah dipadatkan dan memudahkan sapi mengunyahnya. Jerami yang sangat kering dapat dibasahi secara bertahap sebelum dicampur agar air merata dan tidak menggenang di dasar wadah.

Bahan tambahan dapat terdiri atas dedak padi, bekatul, molases atau tetes tebu, serta inokulan fermentasi. Dedak berfungsi menambah energi dan membantu memperbaiki tekstur campuran. Molases menyediakan gula yang cepat digunakan mikroorganisme, sedangkan inokulan dapat dipakai mengikuti aturan dosis pada kemasan.

Siapkan pula terpal, ember, timbangan, alat pengaduk, sarung tangan, dan wadah yang dapat ditutup rapat. Wadah bisa berupa drum plastik, tong, silo sederhana, atau kantong plastik tebal berlapis. Semua peralatan perlu dicuci dan dikeringkan agar tidak membawa kotoran yang mengganggu proses pemeraman.

Komposisi campuran yang praktis

Untuk skala kecil, salah satu formula yang mudah diterapkan terdiri atas 100 kilogram hijauan cincang, 5–10 kilogram dedak, dan 2–3 liter molases. Molases perlu dilarutkan ke dalam air secukupnya agar dapat disiramkan merata. Jumlah air disesuaikan dengan kondisi bahan, bukan ditambahkan sekaligus.

Pada penggunaan jerami padi, campuran dapat dibuat dari 100 kilogram jerami cincang, 5–10 kilogram dedak, dan larutan molases. Jika jerami sangat kering, air biasanya diperlukan lebih banyak dibandingkan rumput segar. Penambahan sumber protein seperti bungkil atau bahan pakan lain dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu ransum, tetapi jumlahnya perlu disesuaikan dengan formulasi pakan secara keseluruhan.

Inokulan seperti kultur bakteri fermentasi tidak selalu wajib apabila bahan, kadar air, dan kondisi kedap udara sudah tepat. Jika digunakan, ikuti dosis yang tercantum pada label produk. Jangan menambahkan bahan kimia, antibiotik, atau urea secara sembarangan karena kesalahan takaran dapat membahayakan ternak.

Campuran yang baik memiliki aroma bahan hijauan dan sedikit manis atau asam setelah selesai diperam. Aroma menyengat seperti amonia, telur busuk, atau bangkai menandakan proses tidak berjalan dengan baik. Formula juga sebaiknya dicatat agar peternak dapat membandingkan hasil dari setiap pembuatan.

Langkah membuat pakan fermentasi

Bentangkan terpal di tempat teduh, kemudian masukkan hijauan yang sudah dicacah. Campurkan dedak secara bertahap sambil diaduk hingga menyebar. Larutkan molases dalam air bersih, lalu percikkan ke seluruh permukaan bahan. Bila memakai inokulan, campurkan sesuai petunjuk dan aduk kembali sampai tidak ada bagian yang terlalu kering atau terlalu basah.

Lakukan pemeriksaan kelembapan dengan cara mengepal campuran. Bahan yang sesuai akan menggumpal sementara, tetapi tidak meneteskan banyak air. Jika terlalu kering, tambahkan air sedikit demi sedikit. Jika terlalu basah, campurkan hijauan kering atau dedak secukupnya. Penyesuaian ini penting karena air yang berlebihan dapat memicu pembusukan.

Masukkan campuran ke dalam wadah secara bertahap. Setiap lapisan setebal kira-kira 20–30 sentimeter perlu dipadatkan dengan cara diinjak menggunakan alas bersih atau ditekan memakai alat. Tujuan pemadatan adalah mengeluarkan udara dari sela-sela bahan. Sisakan ruang kosong secukupnya agar penutup tidak mudah terdorong ketika terjadi sedikit pengembangan gas.

Setelah wadah penuh, tutup permukaan dengan plastik yang bersih dan tekan hingga menempel pada bahan. Tutup kembali dengan rapat menggunakan penutup drum, tali, atau lakban. Simpan wadah di tempat teduh, kering, dan tidak terkena hujan maupun sinar matahari langsung. Jangan membuka wadah selama masa pemeraman kecuali ada kebocoran yang harus segera diperbaiki.

Lama pemeraman dan cara pemberian

Masa pemeraman biasanya berlangsung sekitar 14–21 hari. Fermentasi dapat dibuka setelah aroma asam segar muncul dan tekstur bahan berubah menjadi lebih lunak, tetapi tidak berlendir. Pada kondisi tertentu, pemeraman lebih lama dapat menghasilkan pakan yang lebih stabil selama wadah tetap benar-benar kedap udara.

Pakan yang matang umumnya berwarna hijau kekuningan atau cokelat muda sesuai bahan awal. Aroma asam yang ringan masih normal. Sebaliknya, warna hitam pekat, lendir berlebihan, jamur berwarna hijau atau putih tebal, serta bau busuk menunjukkan adanya kerusakan. Bagian yang rusak sebaiknya tidak diberikan kepada sapi.

Saat pertama kali diberikan, lakukan pengenalan secara bertahap selama sekitar satu minggu. Campurkan sedikit pakan fermentasi dengan pakan biasa, lalu tingkatkan porsinya perlahan. Perubahan mendadak dapat menyebabkan sapi kurang nafsu makan, kembung, atau mengalami gangguan pencernaan.

Ambil pakan secukupnya untuk kebutuhan satu hari, kemudian segera tutup kembali sisa bahan. Setelah terkena udara, pakan lebih mudah mengalami pemanasan dan pertumbuhan jamur. Berikan air minum bersih sepanjang waktu serta amati konsumsi, kondisi feses, nafsu makan, dan perubahan berat badan sapi.

Penyimpanan, kendala, dan keamanan

Wadah pakan fermentasi harus diletakkan di atas alas yang tidak tergenang air dan terlindung dari tikus. Lubang kecil pada plastik dapat menjadi jalan masuk udara. Jika ditemukan kebocoran, segera tutup dengan lapisan plastik tambahan atau pindahkan bahan ke wadah lain yang bersih dan dapat ditutup rapat.

Pakan yang terlalu basah biasanya berbau busuk, mengeluarkan cairan, dan berubah menjadi lembek. Penyebabnya dapat berupa penambahan air berlebihan, bahan dipanen saat terlalu basah, atau pemadatan kurang baik. Pakan yang terlalu kering cenderung tidak mengalami perubahan aroma dan mudah berongga. Perbaikan dapat dilakukan pada pembuatan berikutnya dengan mengatur kadar air serta tekanan pemadatan.

Jangan memberikan pakan yang ditumbuhi jamur dalam jumlah banyak, terutama kepada sapi bunting, pedet, atau sapi yang sedang sakit. Racun jamur dapat menurunkan nafsu makan dan mengganggu kesehatan. Jika ragu terhadap kualitasnya, lebih aman memisahkan bahan tersebut dari pakan yang masih baik.

Pakan fermentasi juga perlu dihitung berdasarkan kebutuhan bahan kering, bukan hanya berat basah. Konsultasikan penyusunan ransum dengan penyuluh peternakan atau tenaga ahli setempat apabila pakan ditujukan untuk penggemukan intensif maupun sapi perah. Pemberian mineral dan sumber protein yang tepat akan membantu pakan fermentasi memberikan manfaat yang lebih optimal.

Mulailah dari jumlah kecil agar proses mudah diawasi. Catat jenis bahan, bobot setiap komponen, jumlah air, tanggal pengemasan, dan hasil pemeraman. Dengan pencatatan sederhana, peternak dapat menemukan komposisi yang paling cocok untuk kondisi bahan dan kebutuhan ternaknya.

Pakan fermentasi yang dibuat secara bersih, padat, dan kedap udara dapat membantu mengurangi ketergantungan pada hijauan segar setiap hari. Terapkan langkahnya secara bertahap, periksa kualitas sebelum diberikan, dan manfaatkan bahan pertanian yang tersedia di sekitar kandang untuk membangun pola pakan sapi yang lebih hemat dan berkelanjutan.